| serambi cinta
Monday September 6th 2010

Who's Online

5 visitors online now
5 guests, 0 members

Powered by Visitor Maps

TAG

Hikayat Inge: “War is Dead”

3039438p4 Desember. Ini tanggal penting bagi Aceh. Dulu, setiap tanggal 4 Desember, GAM memperingati hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan Aceh. Biasanya, pada hari itu akan ada pidato politik Tengku Hasan Tiro yang dibacakan oleh Panglima GAM. Sekarang, Aceh sudah damai dan sang Wali itu pun, Hasan Tiro, ada di tanah Aceh. Akankan ada pidato politik lagi dari Hasan Tiro? Dan, kalau pun ada saya yakin Hasan Tiro hanya ingin mengatakan satu hal, “War is Dead.”

“Bisa ngak aku ketemu dengan Wali?”

Aku tidak segera menjawab pertanyaan Inge. Betapa tidak, aku saja yang anak Aceh belum pernah bertemu Wali lalu, bagaimana mungkin aku bisa memastikan Inge bisa bertemu Wali. Dan, untuk menyembunyikan kegelisahan yang mulai merambat di hatiku, ku ajukan sebuah pertanyaan asal saja. “Untuk apa sih bertemu Wali?”

“Penting. Penting sekali. Aku tertarik dengan bukunya “The Price of Freedom: The Unfinished Diary” dan sangat penasaran kenapa sampai disebut sebagai “Catatan yang belum selesai.” Bukan hanya itu, aku ingin bersalaman dengannya karena salah satu petikan dicatatannya itu Wali sangat yakin kalau ia akan pulang lagi ke Aceh dan itu terbukti. Katanya, “hanya orang gila dan bodoh yang percaya aku tidak akan kembali lagi.”

Inge benar, kenapa sampai menyebut “The Unfinished Diary?”. Dan, kalau belum selesai kapan pula ada catatan finalnya?

“Begini Inge. Catatan belum selesai itu bukan hanya bermakna — aslinya memang catatan itu belum selesai tapi juga bermakna bahwa dalam hidup ini tidak ada yang selesai atau berhenti pada tempatnya. Hidup ini terus bergerak dan setiap pergerakan dituntut keharusan untuk kreatif karena disitulah makna yang disebut manusia unggul. Sebagai Wali, ia tidak ingin orang terus menerus menjadi muridnya karena setiap orang adalah kreator dan setiap kreator memiliki jalannya sendiri.”

“Kamu ini udah kayak paham Wali saja. Padahal, kamu ngaku belum pernah bertemu Wali.”

Suasana, tiba-tiba saja seperti sedang berada di padepokan Zen Buddisme. Aku dan Inge hanya bisa diam bagai “sang budha” yang sedang mengalami kekosongan dan kesunyian setelah membaca kitab “The Price of Freedom.”

“Ya, sudah. Kamu kan orang Aceh dan ceritakanlah apa yang menjadi kesadaranmu tentang Tiroisme sang Wali Hasan Tiro.”

Ya Tuhan, mate aku. Tapi untung yang diminta kesadaran. Kalau Inge memintaku untuk mengurai pengetahuan dan pemahaman bisa langsung pingsan aku. Soalnya aku bukan muridnya Hasan Tiro apalagi prajuritnya. Aku hanya perenung dan pemimpi, kata teman-temanku.

“Begini Inge…” Aku tak langsung menyambung karena tiba-tiba kehilangan bahasa yang tepat untuk menjadikannya sebagai kalimat penjelasan. Kesempatan itu aku gunakan untuk mengubah posisi dudukku di mobil yang sedang meluncur ke arah Seulawah sambil menarik nafas, dan pada saat yang sama mengumpulkan energi berpikir guna menyusun kalimat yang sedikit dramatis.

“Hasan Tiro itu sosok eksistensialis. Dan, untuk itu ia menempatkan dirinya sebatas guru yang oleh dirinya dan juga pengikutnya disebut Wali. Dan sebagai guru tugas yang hanya dia yang bisa melakukannya sudah selesai. Makanya, ia pun kini pulang ke Aceh. Jadi bukan soal Aceh sudah damai atau karena ia sangat merindukan kampong halaman yang sudah puluhan tahun ia tinggalkan. Tidak. Hasan Tiro pulang karena tugas-nya sudah selesai. Ibarat petani yang sudah menyelesaikan tugasnya membajak maka sang petani itu akan segera pulang ke rumahnya. Begitu pula dengan Hasan Tiro yang pulang ke negerinya, Aceh.”

“Eksistensialis Hasan Tiro itu, apa an sih? Kamu kayaknya pembaca Thus Spoke Zarathustra karya Friedrich Nietzsche saja.”

“Yup. Tapi bukan aku yang membaca. Hasan Tiro lah yang membaca dan bacaan itulah yang membuat ia memutuskan sekaligus menetapkan takdirnya untuk pulang ke Aceh guna memimpin perlawanan yang disebutnya sebagai usaha patriotisme untuk mewujudkan nasionalisme Aceh sebagai satu-satunya jalan guna meningkatkan kembali citra dan harga diri orang Aceh.”

“Dan sebagai seorang eksistensialis menjadi sangat penting arti ke-aku-an manusia untuk bisa tampil menjadi manusia unggul atau manusia atas. Dan, dengan menggunakan berbagai literature keacehan Sang Wali menemukan jalan sempit dan penuh duri itu di tanah Aceh. Dan, tidak ada cara lain kecuali dengan mengibarkan bendera perlawanan sekalipun itu dengan cara berperang. Bagi kaum eksistensialis perang atau konflik adalah cara bentur paling efektif untuk membuat manusia terus menjadi creator bagi dirinya. Namun begitu, sebagai diri yang lahir dan besar dalam tradisi keislaman Hasan Tiro juga sadar bahwa perang bukan jalan utama dank arena itu rumusan perang yang dipakai adalah perang untuk mempertahankan harkat dan martabat dari mereka yang disebut sebagai penjajah.”

“Lalu…?” Inge kelihatan sedikit mengkerut dahinya karena kata-kata terakhir. Barangkali, kekagumannya pada sosok sang wali tidak lantas menyebabkannya bisa dengan rendah hati menerima kata penjajah.

“Begitulah situasi saat itu Inge, dan setiap masa ada situasi dan setiap situasi ada tantangan dan wujud konfliknya sendiri-sendiri. Dan, wujud tantangan utama yang dihadapi orang Aceh sudah selesai. Sebagai manusia, penyebutan ureung Aceh saja sudah menunjukkan bahwa manusia Aceh sudah menemukan dirinya sebagai “aku” dan bukan lagi sebagai “kau.” UUPA yang dihasilkan lewat MoU Helsinki adalah bukti nyata bahwa orang Aceh sudah menemukan keberadaannya, setidaknya di buminya sendiri. Jadi, tugas Hasan Tiro sudah selesai dan saatnya murid-muridnya sekarang menjadi guru bagi generasi berikutnya, dengan zaman dan model tantangannya sendiri.”

“Salah satu tandanya kalau zamannya sudah berakhir adalah ketika ia memilih untuk mendengar apa yang menjadi kehendak rakyat Aceh. Suatu ketika ia berujar, jika rakyat Aceh memilih jalan damai maka jalan itulah yang juga aku pilih. Begitu kira-kira. Ini persis seperti Nietzsche yang pernah berujar “Sudah tiba waktunya bagi manusia untuk menentukan tujuan baginya sendiri. Sudah tiba saatnya bagi manusia untuk menanam bibit harapannya yang seunggul-unggulnya.”

“Dan perdamaian adalah bibit unggul yang bisa menjadi modal masa depan orang Aceh. Tapi, perdamaian bukan bearti tidak ada lagi konflik. Yang tidak ada adalah perang. Konflik akan tetap ada sebagai generator perubahan. Konflik akan memberitahu bahwa ada sesutau yang perlu terus diperbaiki dan konflik akan membuat setiap orang untuk menjadi kreatif karena hidup adalah kompetisi. Sekarang, tugas Aceh setelah perdamaian adalah meraih kemenangan-kemenangan berikutnya. Setiap orang Aceh sudah diberi busur dan panah oleh sang guru dan karena itu pula setiap hari adalah “pertarungan” bagi setiap orang Aceh. Orang bisa tidak bersuara dan duduk diam saja kalau ia memiliki busur dan panah, kalau tidak mereka niscaya membual dan cekcok saja.”

“Jadi maksudmu tugas Hasan Tiro, Sang Guru sudah selesai yakni mengangkat orang Aceh menjadi manusia yang kuat, manusia yang cerdas, manusia yang berani, dan manusia yang bangga dengan dirinya.”

“Betul sekali, Inge. Dan, kini Aceh sudah berhasil mencapai kehendaknya sebagai manusia yang berkuasa (Will to Power). Inge, coba perhatikan perpaduan peace dan heart yang bila digabung (peACEHeart) akan ditemukan kata kunci penting, seperti peace, heart, ace, dan art. Ini artinya, Aceh memang harus memilih jalan damai untuk bisa maju. Dan itu semua mesti muncul dari hati yang paling dalam. Lebih dari itu, perdamaian adalah anak tangga bagi Aceh untuk mencapai kemenangan (ace) berikutnya sejauh itu dilakukan dengan pendekatan yang berseni (art).”

“Aku tahu apa yang mau kamu katakan berikutnya tentang Sang Wali.”

“Apa, Inge Gembel?”

“War is dead, dan aku ingin beristirahat dengan tenang dalam kesunyian seorang hamba.?”

“He he he. Masih mau melanjutkan perjalanan ke kampungnya Wali ngak?”

Mobil langsung memutar arah dan kembali menuju Kuta Raja, Banda Aceh.

Leave a Reply



"UA-11070594-1"